BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Guru memiliki peranan yang sangat penting dalam
menentukan kuantitas dan kualitas pengajaran yang dilaksanakan. Oleh sebab itu,
guru harus memikirkan dan membuat
perencanaan secaraa seksama dalam meningkatkan kesempatan belajar bagi siswanya
dan memperbaiki kualitas mengajarnya.
Hal ini menuntut perubahan-perubahan dalam
mengorganisasikan kelas, penggunaan metode mengajar, strategi belajar mengajar,
maupun sikap dan karakteristik guru dalam mengelola proses belajar mengajar.
Guru berperan sebagai pengelola proses belajar-mengajar, bertindak sebagai
fasilitor yang berusaha mencipatakan kondisi belajar mengajar yang efektif,
sehingga memungkinkan proses belajar mengajar, mengembangkan bahan pelajaran
dengan baik, dan meningkatkan kemampuan siswa untuk menyimak pelajaran dan
menguasai tujuan-tujuan pendidikan yang harus mereka capai. Untuk memenuhi hal
tersebut di atas, guru dituntut mampu mengelola proses belajar mengajar yang
memberikan rangsangan kepada siswa, sehingga ia mau belajar karena siswalah subjek
utama dalam belajar.
Kegiatan belajar bersama dapat membantu memacu belajar
aktif. Kegiatan belajar dan mengajar di kelas memang dapat menstimulasi belajar
aktif. Namun kemampuan untuk mengajar melalui kegiatan kerjasana kelompok kecil
akan memungkinkan untuk menggalakkan kegiatan belajar aktif dengan cara khusus.
Apa yang didiskusikan siswa dengan teman-temannya dan apa yang diajarkan siswa
kepada teman-temannya memungkinkan mereka untuk memperoleh pemahaman dan penguasaan
materi pelajaran.
Pembelajaran Agama Islam tidak lagi mengutamakan pada
penyerapan melalui pencapaian informasi, tetapi lebih mengutamakan pada
pengembangan kemampuan dan pemrosesan informasi. Untuk itu aktifitas peserta
didik perlu ditingkatkan melalui latihan-latihan atau tugas dengan bekerja
dalam kelompok kecil dan menjelaskan ide-ide kepada orang lain. (Hartoyo,
2000:24).
Berdasarkan uraian tersebut di atas maka peneliti ingin
mencoba melakukan penelitian dengan judul “ Peningkatan Pembelajaran Agama Islam Melalui metode pemberian tugas
belajar dan resitasi Pada Siswa Kelas X MA Baniy Kholiel
Bangsalsari Kabupaten Jember Tahun Pelajaran 2010/2011”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat
dirumuskan suatu masalah sebagai berikut:
- Bagaimanakah peningkatan prestasi belajar siswa dengan diterapkannya metode pemberian tugas belajar dan resitasi?
- Bagaimanakah pengaruh metode metode pemberian tugas belajar dan resitasi terhadap motivasi belajar siswa?
C. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan permasalahan di atas, penelitian ini
bertujuan untuk:
- Ingin mengetahui peningkatan prestasi belajar siswa setelah diterapkannya metode pemberian tugas belajar dan resitasi.
- Ingin mengetahui pengaruh motivasi belajar siswa setelah diterapkan metode pemberian tugas belajar dan resitasi.
D. Manfaat Penelitian
Penulis mengharapkan dengan hasil penelitian ini dapat:
- Memberikan informasi tentang metode pembelajaran yang sesuai dengan materi agama Islam.
- Meningkatkan motivasi pada pelajaran agama Islam
- Mengembangkan metode pembelajaran yang sesuai dengan bidang studi agama Islam.
E. Batasan Masalah
Karena keterbatasan waktu, maka diperlukan pembatasan
masalah meliputi:
- Penelitian ini hanya dikenakan pada siswa Kelas X MA Baniy Kholiel Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember Tahun Pelajaran 2011/2012.
- Penelitian ini dilakukan pada bulan januari semester ganjil tahun pelajaran 2010/2011.
- Materi yang disampaikan adalah pokok bahasan mata pelajaran Al Qur’an Hadits.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A.
Definisi Pembelajaran
Pembelajaran adalah proses, cara menjadikan orang atau
makhluk hidup belajar. Sedangkan belajar adalah berusaha memperoleh kepandaian
atau ilmu, berusaha tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman
(KBBI, 1996:14)
Sependapat dengan pernyataan tersebut Soetomo (1993:68)
mengemukakan bahwa pembelajaran adalah proses pengelolaan lingkungan seseorang
yang dengan sengaja dilakukan sehingga memungkinkan dia belajar untuk melakukan
atau mempertunjukkan tingkah laku tertentu pula. Sedangkan belajar adalah suatu
proses yang menyebabkan tingkah laku yang bukan disebabkan oleh proses
pertumbuhan yang bersifat fisik, tetapi perubahan dalam kebiasaan, kecakapan,
bertambah, berkembang daya pikir, sikap dan lain-lain (Soetomo, 1993:120)
Pasal 1 Undang –undang No. 20 tahun 2003 tentang
pendidikan nasional menyebutkan bahwa
pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan
sumber belajar pada suatu lingkungan belajar.
Jadi pembelajaran adalah proses yang disengaja yang
menyebabkan siswa belajar pada suatu lingkungan belajar untuk melakukan
kegiatan pada siatuasi tertentu.
B.
Motivasi
Belajar
- Pengertian Motivasi
Menurut Djamarah (2002:
114) motivasi adalah suatu pendorong yang mengubah energi dalam diri seseorang
kedalam bentuk aktivitas nyata untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam proses
belajar, motivasi sangat diperlukan sebab seseorang yang tidak mempunyai
motivasi dalam belajar tidak akan mungkin melakukan aktivitas belajar. Hal ini
sesuai dengan yang diungkapkan oleh Nur (2001: 3) bahwa siswa yang termotivasi
dalam belajar sesuatu akan menggunakan proses kognitif yang lebih tinggi dalam
mempelajari materi itu, sehingga siswa itu akan meyerap dan mengendapkan mateti
itu dengan lebih baik.
Jadi motivasi adalah suatu kondisi yang
mendorong seseorang untuk berbuat sesuatu dalam mencapai tujuan tertentu.
- Macam-macam Motivasi
Menurut jenisnya motivasi dibedakan
menjadi dua, yaitu:
a.
Motivasi Intrinsik
Jenis motivasi ini
timbul sebagai akibat dari dalam individu, apakah karena adanya ajakan,
suruhan, atau paksaan dari orang lain sehingga dengan kondisi yang demikian
akhirnya ia mau melakukan sesuatu atau belajar (Usman, 2000: 29).
b.
Motivasi
Ekstrinsik
Jenis motivasi ini
timbul sebagai akibat pengaruh dari luar individu, apakah karena adanya ajakan,
suruhan, atau paksaan dari orang lain sehingga dengan kondisi yang demikian
akhirnya ia mau melakukan sesuatu atau belajar. Misalnya seseorang mau belajar
karena ia disuruh oleh orang tuanya agar mendapat peringkat pertama dikelasnya
(Usman, 2000: 29).
Dari uraian di atas
diketahui bahwa motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang timbul dari luar
individu yang berfungsinya karena adanya perangsang dari luar, misalnya adanya
persaingan, untuk mencapai nilai yang tinggi, dan lain sebagainya.
C.
Pengajaran Metode Pemberian Tugas Belajar Dan Resitasi
- Definisi
Yang
dimaksud dengan pemberian tugas belajar dan resitasi ialah suatu cara mengajar di mana
seorang guru memberikan tugas-tugas
tertentu kepada peserta didik, sedangkan hasil tersebut di periksa oleh guru dan peserta didik
mempertanggung jawabkannya. Pertanggungan
jawab itu dapat dilaksanakan dengan cara:
§
Dengan menjawab test
yang diberikan oleh guru.
§
Dengan menyampaikan ke
muka berupa lisan.
§
Dengan cara tertulis.
Dalam metode ini kita menemukan tiga istilah penting
a. Tugas:
Tugas
adalah suatu pekerjaan yang harus dilakukan baik tugas datangnya dari orang lain maupun dari
dalam diri kita sendiri. Di sekolah biasanya
itu datang dari pihak guru atau kepala sekolah atau peserta didik sendiri.
Tugas ini biasanya bersifat educatif dan
bukan bersifat dan berunsur pekerjaan.
b.
Belajar.
Banyak sekali perumusan tentang
belajar, menurut S. Nasution ada beberapa batasan istilah belajar, di
antaranya:
1)
Belajar adalah
perubahan dalam sistem urat saraf.
2)
Belajar adalah
penambahan pengetahuan.
3) Belajar adalah perubahan kelakuan berkat pengalaman dan pengertian.
Perubahan
tingkah laku seseorang dipengaruhi oleh apa yang dimiliki seseorang itu, seperti: sifat, pengalaman, pengetahuan, keterampilan, keadaan
jasmaniah dan lain-lain sebagainya,
dan jugs dipengaruhi pula oleh lingkungan. Hasil belajar dipengaruhi pula oleh motif bahan yang dipelajari dengan mempergunakan alat-alat, waktu, cara belajar dan
sebagainya.
c. Resitasi
Resitasi
adalah penyajian kembali atau penimbulan kembali sesuatu yang sudah dimiliki, diketahui atau
dipelajari. Metode ini sering disebut metode
pekerjaan rumah. Prinsip yang mendasari
metode ini ada dalam AI-Quran. Tuhan memberikan
suatu tugas yang berat terhadap Nabi Muhammad sebelum dia melaksanakan tugas ke-Rasulannya. Tugas yang diintruksikan itu ialah berupa sifat-sifat
kepemimpinan yang harus dimiliki.
Firman
Allah SWT dalam Al-Qur’an surat Al-Mudatsir ayat 1-7:
Artinya: Hai orang yang berselubung,
bangunlah dan pertakutilah kaummu,
hendak besarkan Tuhan-mu. Dan bersihkanlah pakaianmu!
Tinggallah pekerjaan-pekerjaan yang mendatangkan siksaan. Janganlah engkau
memberi kepada orang lain lantaran hendak
meminta lebih banyak. Sabar dan uletlah menurut perintah Tuhan. (Q.S. Al Mudatatsir: 1-7).
Jadi Tuhan memberikan tugas lima macam, antara lain:
1) Ta'at beragama (membesarkan Tuhan).
2) Giat dan rajin berdakwah.
3) Membersihkan diri, jiwa dari kekotoran
lahir dan bathin.
4) Percaya pada diri sendiri dan tidak
mengharapkan sesuatu pada orang lain.
5) Tabah dan ulet dalam melaksanakan
tugas.
- Fase-Fase Resitasi
Dengan metode Resitasi terdapat 3 fase
a. Guru memberikan tugas:
Tugas yang
diberikan oleh guru harus disesuaikan dengan kemampuan peserta didik. Dalam pelaksanaan tugas itu kemungkinan peserta didik akan menjawab
dan penyelesaikan suatu
bentuk hitungan dan ada pula berbentuk sesuatu yang harus diselesaikan, ada pula berbentuk
sesuatu yang baik dari berbagai aspek.
b. Murid melaksanakan tugas (belajar) cara murid belajar akan terlaksana dengan balk apabila dia belajar sesuai dengan
petunjuk yang diberikan
guru dan sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai.
c.
Murid
mempertanggung jawabkan hasil pekerjaannya (resitasinya).
Resitasi itu juga akan wajar apabila sesuai dengan tujuan pemberian tugas.
- Keuntungan Metode Resitasi
a. Peserta didik belajar membiasakan untuk
mengambil inisiatif sendiri
dalam segala tugas yang diberikan.
b. Meringankan tugas guru yang diberikan.
c. Dapat mempertebal rasa tanggung jawab.
Karena hasil-hasil yang dikerjakan dipertanggung jawabkan dihadapan guru.
d. Memupuk anak agar mereka dapat berdiri
sendiri tanpa mengharapkan bantuan orang lain.
e. Mendorong peserta didik supaya suka
berlomba-lomba untuk mencapai sukses.
f. Hasil pelajaran akan tahan lama karena
pelajaran sesuai dengan minat peserta didik.
g. Dapat memperdalam pengertian dan
menambah keaktipan dan kecakapan peserta didik.
h. Waktu yang dipergunakan tak terbatas
sampai pada jam jam
i.
sekolah.
- Kelemahan Metode Resitasi
a. Peserta didik yang terlalu bodoh sukar
sekali belajar.
b. Kemungkinan tugas yang diberikan tapi
dikerjakan oleh orang lain.
c. Kadang-kadang peserta didik menyalin
atau meniru pekerjaan temannya sehingga pengalamannya sendiri tidak ada.
d. Kadang-kadang pembahasannya kurang
sempurna.
e. Bila tugas terlalu sering dilakukan oleh murid akan
menyebabkan:
§
Terganggunya kesehatan peserta didik, karena
mereka kembali dari sekolah selalu melakukan tugas, seingga waktu bermain tidak
ada.
§
Menyebabkan peserta didik asal mengerjakan saja
karena mereka menganggap tugas-tugas tersebut membosankan.
§
Mencari tugas-tugas yang sesuai dengan kemampuan
setiap individu sulit, jalan pelajaran lambat dan memakan waktu yang lama.
§
Kalau peserta didik terlalu banyak kadang-kadang
guru tak sanggup memeriksa tugas-tugas peserta didik tersebut.
- Langkah-Langkah Yang Harus Dirumuskan Terlebih Dahulu Dalam Pelaksanaan Resitasi
a.
Pemberian Tugas Dan Penjelasan
1)
Tujuan yang harus dicapai mestilah dirumuskan terlebih
dahulu secara jelas.
2)
Terangkan dengan jelas tugas-tugas yang akan dikerjakan
murid.
3)
Selidiki apakah metode resitasi satu-satunya yang
terbaik untuk bahan yang akan diajarkan.
b.
Pelaksanaan Tugas.
1)
Setiap tugas yang diberikan harus di kontrol.
2)
Siswa yang mengalami kegagalan harus dibimbing.
3)
Hargailah setiap tugas yang di kerjakan murid.
4)
Berikan dorongan bagi siswa kurang bergairah.
5)
Tentukan bentuk-bentuk resitasi yang akan dipakai.
6)
Saran-saran:
a)
Tugas yang diberikan harus jelas, sehingga anak
mengerti betul apa yang harus dikerjakan.
b)
Waktu untuk menyelesaikan tugas harus cukup.
c)
Adakan kontrol yang sistimatis sehingga mendorong anak-anak
bekerja dengan sungguh-sungguh.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan (action research), karena penelitian dilakukan untuk memecahkan
masalah pembelajaran di kelas. Penelitian ini juga termasuk penelitian
deskriptif, sebab menggambarkan bagaimana suatu teknik pembelajaran diterapkan
dan bagaimana hasil yang diinginkan dapat dicapai.
Menurut Oja dan Sumarjan (dalam Titik Sugiarti, 1997; 8) mengelompokkan
penelitian tindakan menjadi empat macam yaitu (a) guru bertindak sebagai
peneliti, (b) penelitian tindakan kolaboratif, (c) Simultan terintegratif, dan
(d) administrasi social ekperimental.
Dalam penelitian tindakan ini menggunakan bentuan guru sebagai peneliti,
penanggung jawab penuh penelitian tindakan adalah praktisi (guru). Tujuan utama
dari penelitian tindakan ini adalah meningkatkan hasil pembelajaran di kelas
dimana guru secara penuh terlibat dalam penelitian mulai dari perencanaan,
tindakan, pengamatan dan refleksi.
Dalam penelitian ini peneliti tidak bekerjasama dengan siapapun,
kehadiran peneliti sebagai guru di kelas sebagai pengajar tetap dan dilakukan
seperti biasa, sehingga siswa tidak tahu kalau diteliti. Dengan cara ini
diharapkan didapatkan data yang seobjektif mungkin demi kevalidan data yang
diperlukan.
Penelitian ini akan dihentikan apabila ketuntasan belajar secara
kalasikal telah mencapai 85% atau lebih. Jadi dalam penelitian ini, peneliti
tidak tergantung pada jumlah siklus yang harus dilalui.
A.
Tempat,
Waktu dan Subjek Penelitian
- Tempat Penelitian
Tempat penelitian adalah tempat yang digunakan dalam
melakukan penelitian untuk memperoleh data yang diinginkan. Penelitian ini
bertempat di Kelas X MA Baniy
Kholiel Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember Tahun Pelajaran 2010/2011.
2. Waktu
Penelitian
Waktu penelitian adalah waktu berlangsungnya penelitian
atau saat penelitian ini dilangsungkan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari semester gasal 2010/2011.
3. Subjek
Penelitian
Subjek penelitian adalah siswa-siswi Kelas X MA Baniy Kholiel Kecamatan Bangsalsari Kabupaten
Jember Tahun Pelajaran 2010/2011.
B.
Rancangan
Penelitian
Penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas
(PTK). Menurut Tim Pelatih Proyek PGSM, PTK adalah suatu bentuk kajian yang
bersifat reflektif oleh pelaku tindakan yang dilakukan untuk meningkatkan
kemantapan rasional dari tindakan mereka dalam
melaksanakan tugas, memperdalam pemahaman terhadap tindakan-tindakan
yang dilakukan itu, serta memperbaiki kondisi dimana praktek pembelajaran
tersebut dilakukan (dalam Mukhlis, 2000: 3).
Sedangkah menurut Mukhlis (2000: 5) PTK adalah suatu
bentuk kajian yang bersifat sistematis reflektif oleh pelaku tindakan untuk
memperbaiki kondisi pembelajaran yang dilakukan.
Adapun tujuan utama dari PTK adalah untuk memperbaiki /meningkatkan
pratek pembelajaran secara berkesinambungan, sedangkan tujuan penyertaannya
adalah menumbuhkan budaya meneliti di kalangan guru (Mukhlis, 2000: 5).
Sesuai
dengan jenis penelitian yang dipilih, yaitu penelitian tindakan, maka
penelitian ini menggunakan model penelitian tindakan dari Kemmis dan
Taggart (dalam Sugiarti, 1997: 6), yaitu
berbentuk spiral dari sklus yang satu ke siklus yang berikutnya. Setiap siklus
meliputi planning (rencana), action (tindakan), observation (pengamatan), dan reflection
(refleksi). Langkah pada siklus berikutnya adalah perncanaan yang sudah
direvisi, tindakan, pengamatan, dan refleksi. Sebelum masuk pada siklus 1
dilakukan tindakan pendahuluan yang berupa identifikasi permasalahan. Siklus
spiral dari tahap-tahap penelitian tindakan kelas dapat dilihat pada gambar
berikut.
Gambar
3.1 Alur PTK
Penjelasan
alur di atas adalah:
- Rancangan/rencana awal, sebelum mengadakan penelitian peneliti menyusun rumusan masalah, tujuan dan membuat rencana tindakan, termasuk di dalamnya instrumen penelitian dan perangkat pembelajaran.
- Kegiatan dan pengamatan, meliputi tindakan yang dilakukan oleh peneliti sebagai upaya membangun pemahaman konsep siswa serta mengamati hasil atau dampak dari diterapkannya metode pembelajaran model discovery .
- Refleksi, peneliti mengkaji, melihat dan mempertimbangkan hasil atau dampak dari tindakan yang dilakukan berdasarkan lembar pengamatan yang diisi oleh pengamat.
- Rancangan/rencana yang direvisi, berdasarkan hasil refleksi dari pengamat membuat rancangan yang direvisi untuk dilaksanakan pada siklus berikutnya.
Observasi dibagi dalam tiga putaran,
yaitu putaran 1, 2 dan 3, dimana masing putaran dikenai perlakuan yang sama
(alur kegiatan yang sama) dan membahas satu sub pokok bahasan yang diakhiri
dengan tes formatif di akhir masing putaran. Dibuat dalam tiga putaran
dimaksudkan untuk memperbaiki sistem pengajaran yang telah dilaksanakan.
C.
Instrumen
Penelitian
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari:
- Silabus
Yaitu seperangkat rencana dan pengaturan tentang
kegiatan pembelajaran pengelolahan kelas, serta penilaian hasil belajar.
- Rencana Pelaksanaan Pemlajaran (RPP)
Yaitu merupakan perangkat pembelajaran yang digunakan
sebagai pedoman guru dalam mengajar dan disusun untuk tiap putaran.
Masing-masing RP berisi kompetensi dasar, indicator pencapaian hasil belajar,
tujuan pembelajaran khusus, dan kegiatan belajar mengajar.
- Lembar Kegiatan Siswa
Lembar kegaian ini yang dipergunakan siswa untuk
membantu proses pengumpulan data hasil eksperimen.
- Lembar Observasi Kegiatan Belajar Mengajar
a.
Lembar observasi pengolahan metode pemberian tugas
belajar dan resitasi, untuk mengamati kemampuan guru dalam mengelola
pembelajaran.
b.
Lembar observasi aktivitas siswa dan guru, untuk
mengamati aktivitas siswa dan guru selama proses pembelajaran.
- Tes formatif
Tes ini disusun berdasarkan tujuan pembelajaran yang
akan dicapai. Tes formatif ini diberikan setiap akhir putaran. Bentuk soal yang
diberikan adalah pilihan ganda (objektif). Sebelumnya soal-soal ini berjumlah
46.
D.
Metode
Pengumpulan Data
Data-data yang diperlukan dalam penelitian ini diperoleh
melalui observasi pengolahan metode pemberian tugas belajar dan resitasi,
observasi aktivitas siswa dan guru, dan tes formatif.
E.
Teknik
Analisis Data
Untuk mengetahui keefektivan suatu metode dalam
kegiatan pembelajaran perlu diadakan analisa data. Pada penelitian ini
menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif, yaitu suatu metode
penelitian yang bersifat menggambarkan kenyataan atau fakta sesuai dengan data
yang diperoleh dengan tujuan untuk mengetahui prestasi belajar yang dicapai
siswa juga untuk memperoleh respon siswa terhadap kegiata pembelajaran serta
aktivitas siswa selama proses pembelajaran.
Untuk mengalisis tingkat keberhasilan atau persentase
keberhasilan siswa setelah proses belajar mengajar setiap putarannya dilakukan
dengan cara memberikan evaluasi berupa soal tes tertulis pada setiap akhir
putaran.
Analisis ini dihitung dengan menggunakan statistik sederhana yaitu:
- Untuk menilai ulangan atu tes formatif
Peneliti melakukan penjumlahan nilai yang diperoleh
siswa, yang selanjutnya dibagi dengan jumlah siswa yang ada di kelas tersebut
sehingga diperoleh rata-rata tes formatif dapat dirumuskan:

Dengan :
= Nilai rata-rata
Σ X = Jumlah semua nilai siswa
Σ N =
Jumlah siswa
- Untuk ketuntasan belajar
Ada
dua kategori ketuntasan belajar yaitu secara perorangan dan secara klasikal.
Berdasarkan petunjuk pelaksanaan belajar mengajar kurikulum 1994 (Depdikbud,
1994), yaitu seorang siswa telah tuntas belajar bila telah mencapai skor 65%
atau nilai 65, dan kelas disebut tuntas belajar bila di kelas tersebut terdapat
85% yang telah mencapai daya serap lebih dari sama dengan 65%. Untuk menghitung
persentase ketuntasan belajar digunakan rumus sebagai berikut:

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Data penelitian yang diperoleh berupa hasil uji coba item butir soal,
data observasi berupa pengamatan pengelolaan metode pemberian tugas belajar dan
resitasi dan pengamatan aktivitas siswa dan guru pada akhir pembelajaran, dan
data tes formatif siswa pada setiap siklus.
Data hasil uji coba item butir soal digunakan untuk mendapatkan tes yang
betul-betul mewakili apa yang diinginka. Data ini selanjutnya dianalisis
tingkat validitas, reliabilitas, taraf kesukaran, dan daya pembeda.
Data lembar observasi diambil dari dua pengamatan yaitu data pengamatan
penglolaan metode pemberian tugas belajar dan resitasi yang digunakan untuk
mengetahui pengaruh penerapan metode metode pemberian tugas belajar dan
resitasi dalam meningkatkan prestasi
Data tes formatif untuk mengetahui peningkatan prestasi belajar siswa
setelah diterapkan metode pemberian tugas belajar dan resitasi.
A. Analisis Data Penelitian Persiklus
- Siklus I
a.
Tahap Perencanaan
Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat
pembelajaran yang terdiri dari rencana pelaksanaan pembelajaran
1, LKS 1, soal tes formatif 1, dan alat-alat pengajaran yang mendukung.
b.
Tahap Kegiatan dan Pelaksanaan
Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus I
dilaksanakan pada tanggal 12 januari di kelas X dengan
jumlah siswa 22 siswa. Dalam
hal ini peneliti bertindak sebagai guru. Adapun proses belajar mengajar mengacu
pada rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang telah dipersiapkan. Pengamatan
(observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan belajar mengajar.
Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes
formatif I dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam
proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Adapun data hasil penelitian pada
siklus I adalah sebagai berikut:
Tabel 4.2. Hasil Tes Formatif Siswa
Pada Siklus I
|
No. Urut
|
Nilai
|
Keterangan
|
No. Urut
|
Nilai
|
Keterangan
|
||
|
T
|
TT
|
T
|
TT
|
||||
|
1
|
60
|
|
√
|
12
|
60
|
|
√
|
|
2
|
70
|
√
|
|
13
|
80
|
√
|
|
|
3
|
70
|
√
|
|
14
|
70
|
√
|
|
|
4
|
60
|
|
√
|
15
|
80
|
√
|
|
|
5
|
80
|
√
|
|
16
|
70
|
√
|
|
|
6
|
80
|
√
|
|
17
|
90
|
√
|
|
|
7
|
70
|
√
|
|
18
|
60
|
|
√
|
|
8
|
70
|
√
|
|
19
|
60
|
|
√
|
|
9
|
60
|
|
√
|
20
|
70
|
√
|
|
|
10
|
80
|
√
|
|
21
|
70
|
√
|
|
|
11
|
50
|
|
√
|
22
|
60
|
|
√
|
|
Jumlah
|
750
|
7
|
4
|
Jumlah
|
770
|
8
|
3
|
|
Jumlah
Skor 1520
Jumlah
Skor Maksimal Ideal 2200
Rata-Rata Skor Tercapai
69,09
|
|||||||
Keterangan: T :
Tuntas
TT :
Tidak Tuntas
Jumlah siswa yang tuntas :
15
Jumlah siswa yang belum tuntas :
7
Klasikal :
Belum tuntas
Tabel
4.3. Rekapitulasi Hasil Tes Siklus I
|
No
|
Uraian
|
Hasil Siklus I
|
|
1
2
3
|
Nilai
rata-rata tes formatif
Jumlah
siswa yang tuntas belajar
Persentase
ketuntasan belajar
|
69,09
15
68,18
|
Dari tabel di atas dapat dijelaskan bahwa dengan
menerapkan metode metode pemberian tugas belajar dan resitasi diperoleh nilai
rata-rata prestasi belajar siswa adalah 69,09 dan ketuntasan belajar mencapai
68,18% atau ada 15 siswa dari 22 siswa
sudah tuntas belajar. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pada siklus pertama
secara klasikal siswa belum tuntas belajar, karena siswa yang memperoleh nilai
≥ 65 hanya sebesar 68,18% lebih kecil dari persentase ketuntasan yang
dikehendaki yaitu sebesar 85%. Hal ini disebabkan karena siswa masih merasa
baru dan belum mengerti apa yang dimaksudkan dan digunakan guru dengan
menerapkan metode metode pemberian tugas belajar dan resitasi.
- Siklus II
a.
Tahap perencanaan
Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat
pembelajaran yang terdiri dari rencana pelaksanaan pembelajaran
2, LKS 2, soal tes formatif II, dan alat-alat pengajaran yang mendukung.
b.
Tahap kegiatan dan pelaksanaan
Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus II
dilaksanakan pada tanggal 19
Januari di
kelas X dengan jumlah siswa 27 siswa. Dalam hal ini peneliti
bertindak sebagai guru. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada rencana
pelajaran dengan memperhatikan revisi pada siklus I, sehingga kesalahan atau
kekurangan pada siklus I tidak terulang lagi pada siklus II. Pengamatan
(observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan belajar mengajar.
Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes
formatif II dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa selama
proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Instrument yang digunakan adalah
tes formatif II. Adapun data hasil penelitian pada siklus II adalah sebagai
berikut.
Tabel 4.4. Hasil
Tes Formatif Siswa Pada Siklus II
|
No. Urut
|
Nilai
|
Keterangan
|
No. Urut
|
Nilai
|
Keterangan
|
||
|
T
|
TT
|
T
|
TT
|
||||
|
1
|
60
|
|
√
|
12
|
90
|
√
|
|
|
2
|
80
|
√
|
|
13
|
80
|
√
|
|
|
3
|
80
|
√
|
|
14
|
80
|
√
|
|
|
4
|
90
|
√
|
|
15
|
80
|
√
|
|
|
5
|
90
|
√
|
|
16
|
80
|
√
|
|
|
6
|
60
|
|
√
|
17
|
60
|
|
√
|
|
7
|
80
|
√
|
|
18
|
80
|
√
|
|
|
8
|
70
|
√
|
|
19
|
70
|
√
|
|
|
9
|
60
|
|
√
|
20
|
60
|
|
√
|
|
10
|
80
|
√
|
|
21
|
80
|
√
|
|
|
11
|
90
|
√
|
|
22
|
80
|
√
|
|
|
Jumlah
|
840
|
8
|
3
|
Jumlah
|
840
|
9
|
2
|
|
Jumlah
Skor 1680
Jumlah
Skor Maksimal Ideal 2200
Rata-Rata Skor Tercapai
76,36
|
|||||||
Keterangan: T :
Tuntas
TT :
Tidak Tuntas
Jumlah siswa yang tuntas :
17
Jumlah siswa yang belum tuntas :
5
Klasikal :
Belum tuntas
Tabel
4.5. Rekapitulasi Hasil Tes Siklus II
|
No
|
Uraian
|
Hasil Siklus II
|
|
1
2
3
|
Nilai
rata-rata tes formatif
Jumlah
siswa yang tuntas belajar
Persentase
ketuntasan belajar
|
76,36
17
77,27
|
Dari tabel di atas diperoleh nilai rata-rata prestasi
belajar siswa adalah 76,36 dan ketuntasan belajar mencapai 77,27% atau ada 17
siswa dari 22 siswa sudah tuntas belajar. Hasil ini menunjukkan bahwa pada
siklus II ini ketuntasan belajar secara klasikal telah megalami peningkatan
sedikit lebih baik dari siklus I. Adanya peningkatan hasil belajar siswa ini
karena setelah guru menginformasikan bahwa setiap akhir pelajaran akan selalu
diadakan tes sehingga pada pertemuan berikutnya siswa lebih termotivasi untuk
belajar. Selain itu siswa juga sudah mulai mengerti apa yang dimaksudkan dan
diinginkan guru dengan menerapkan metode metode pemberian tugas belajar dan
resitasi.
- Siklus III
a.
Tahap Perencanaan
Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat
pembelajaran yang terdiri dari rencana pelaksanaan pembelajaran
3, LKS 3, soal tes formatif 3, dan alat-alat pengajaran yang mendukung
b.
Tahap kegiatan dan pengamatan
Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus III
dilaksanakan pada tanggal 26
Januari di kelas X dengan
jumlah siswa 22 siswa. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai guru. Adapun
proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran dengan memperhatikan
revisi pada siklus II, sehingga kesalahan atau kekurangan pada siklus II tidak
terulang lagi pada siklus III. Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan
dengan pelaksanaan belajar mengajar.
Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes
formatif III dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam
proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Instrumen yang digunakan adalah
tes formatif III. Adapun data hasil peneitian pada siklus III adalah sebagai
berikut:
Tabel 4.6. Hasil Tes Formatif
Siswa Pada Siklus III
|
No. Urut
|
Nilai
|
Keterangan
|
No. Urut
|
Nilai
|
Keterangan
|
||
|
T
|
TT
|
T
|
TT
|
||||
|
1
|
90
|
√
|
|
12
|
90
|
√
|
|
|
2
|
90
|
√
|
|
13
|
90
|
√
|
|
|
3
|
90
|
√
|
|
14
|
90
|
√
|
|
|
4
|
80
|
√
|
|
15
|
60
|
|
√
|
|
5
|
90
|
√
|
|
16
|
90
|
√
|
|
|
6
|
80
|
√
|
|
17
|
80
|
√
|
|
|
7
|
90
|
√
|
|
18
|
70
|
√
|
|
|
8
|
60
|
|
√
|
19
|
70
|
√
|
|
|
9
|
90
|
√
|
|
20
|
80
|
√
|
|
|
10
|
90
|
√
|
|
21
|
90
|
√
|
|
|
11
|
60
|
|
√
|
22
|
80
|
√
|
|
|
Jumlah
|
910
|
9
|
2
|
Jumlah
|
890
|
10
|
1
|
|
Jumlah
Skor 1800
Jumlah
Skor Maksimal Ideal 2200
Rata-Rata Skor Tercapai
81,82
|
|||||||
Keterangan: T :
Tuntas
TT :
Tidak Tuntas
Jumlah siswa yang tuntas :
19
Jumlah siswa yang belum tuntas :
3
Klasikal :
Tuntas
Tabel 4.7. Rekapitulasi Hasil Tes Siklus III
|
No
|
Uraian
|
Hasil Siklus III
|
|
1
2
3
|
Nilai
rata-rata tes formatif
Jumlah
siswa yang tuntas belajar
Persentase
ketuntasan belajar
|
81,82
19
86,36
|
Berdasarkan tabel diatas diperoleh nilai rata-rata tes
formatif sebesar 81,82 dan dari 22 siswa yang telah tuntas sebanyak 19 siswa
dan 3 siswa belum mencapai ketuntasan belajar. Maka secara klasikal ketuntasan
belajar yang telah tercapai sebesar 86,36% (termasuk kategori tuntas). Hasil pada siklus III ini mengalami
peningkatan lebih baik dari siklus II. Adanya peningkatan hasil belajar pada
siklus III ini dipengaruhi oleh adanya peningkatan kemampuan guru dalam menerapkan
metode pemberian tugas belajar dan resitasi sehingga siswa menjadi lebih
terbiasa dengan pembelajaran seperti ini sehingga siswa lebih mudah dalam
memahami materi yang telah diberikan. Pada siklus III ini ketuntasan secara
klasikal telah tercapai, sehingga penelitian ini hanya sampai pada siklus III.
c.
Refleksi
Pada tahap ini akah dikaji apa yang telah terlaksana
dengan baik maupun yang masih kurang baik dalam proses belajar mengajar dengan
penerapan metode pemberian tugas belajar dan resitasi. Dari data-data yang
telah diperoleh dapat duraikan sebagai berikut:
1)
Selama proses belajar mengajar guru telah melaksanakan
semua pembelajaran dengan baik. Meskipun ada beberapa aspek yang belum
sempurna, tetapi persentase pelaksanaannya untuk masing-masing aspek cukup
besar.
2)
Berdasarkan data hasil pengamatan diketahui bahwa siswa
aktif selama proses belajar berlangsung.
3)
Kekurangan pada siklus-siklus sebelumnya sudah
mengalami perbaikan dan peningkatan sehingga menjadi lebih baik.
4)
Hasil belajar siswa pada siklus III mencapai
ketuntasan.
d.
Revisi Pelaksanaan
Pada siklus III guru telah menerapkan metode pemberian
tugas belajar dan resitasi dengan baik dan dilihat dari aktivitas siswa serta
hasil belajar siswa pelaksanaan proses belajar mengajar sudah berjalan dengan baik.
Maka tidak diperlukan revisi terlalu banyak, tetapi yang perlu diperhatikan
untuk tindakan selanjutnya adalah memaksimalkan dan mepertahankan apa yang
telah ada dengan tujuan agar pada pelaksanaan proses belajar mengajar
selanjutnya penerapan metode pemberian tugas belajar dan resitasi dapat
meningkatkan proses belajar mengajar sehingga tujuan pembelajaran dapat
tercapai.
B. Pembahasan
- Ketuntasan Hasil belajar Siswa
Melalui hasil peneilitian ini menunjukkan bahwa metode
pemberian tugas belajar dan resitasi memiliki dampak positif dalam meningkatkan
prestasi belajar siswa. Hal ini dapat dilihat dari semakin mantapnya pemahaman
siswa terhadap materi yang disampaikan guru (ketuntasan belajar meningkat dari
sklus I, II, dan II) yaitu masing-masing 68,18%, 77,27%, dan 86,36%. Pada
siklus III ketuntasan belajar siswa secara klasikal telah tercapai.
- Kemampuan Guru dalam Mengelola Pembelajaran
Berdasarkan analisis data, diperoleh aktivitas siswa
dalam proses metode pemberian tugas belajar dan resitasi dalam setiap siklus
mengalami peningkatan. Hal ini berdampak positif terhadap prestasi belajar
siswa yaitu dapat ditunjukkan dengan meningkatnya nilai rata-rata siswa pada
setiap siklus yang terus mengalami peningkatan.
- Aktivitas Guru dan Siswa Dalam Pembelajaran
Berdasarkan analisis data, diperoleh aktivitas siswa
dalam proses pembelajaran agama Islam pada pokok bahasan mengarang yang paling
dominan adalah bekerja dengan menggunakan alat/media, mendengarkan/
memperhatikan penjelasan guru, dan diskusi antar siswa/antara siswa dengan
guru. Jadi dapat dikatakan bahwa aktivitas siswa dapat dikategorikan aktif.
Sedangkan untuk aktivitas guru selama pembelajaran
telah melaksanakan langah-langkah metode pemberian tugas belajar dan resitasi
dengan baik. Hal ini terlihat dari aktivitas guru yang muncul di antaranya
aktivitas membimbing dan mengamati siswa dalam mengerjakan kegiatan
LKS/menemukan konsep, menjelaskan/melatih menggunakan alat, memberi umpan
balik/evaluasi/tanya jawab dimana prosentase untuk aktivitas di atas cukup
besar.
BAB V
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Dari hasil kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan
selama tiga siklus, dan berdasarkan seluruh pembahasan serta analisis yang
telah dilakukan dapat disimpulkan sebagai berikut:
- Pembelajaran dengan berbasis masalah memiliki dampak positif dalam meningkatkan prestasi belajar siswa yang ditandai dengan peningkatan ketuntasan belajar siswa dalam setiap siklus, yaitu siklus I (68,18%), siklus II (77,27%), siklus III (86,36%).
- Penerapan metode metode pemberian tugas belajar dan resitasi mempunyai pengaruh positif, yaitu dapat meningkatkan motivasi belajar siswa yang ditunjukan dengan hasil wawancara dengan sebagian siswa, rata-rata jawaban siswa menyatakan bahwa siswa tertarik dan berminat dengan metode metode pemberian tugas belajar dan resitasi sehingga mereka menjadi termotivasi untuk belajar.
B.
Saran
Dari hasil penelitian yang diperoleh dari uraian
sebelumnya agar proses belajar mengajar agama Islam lebih efektif dan lebih
memberikan hasil yang optimal bagi siswa, maka disampaikan saran sebagai
berikut:
- Untuk melaksanakan model berbasis masalah memerlukan persiapan yang cukup matang, sehingga guru harus mampu menentukan atau memilih topik yang benar-benar bisa diterapkan dengan model berbasis masalah dalam proses belajar mengajar sehingga diperoleh hasil yang optimal.
- Dalam rangka meningkatkan prestasi belajar siswa, guru hendaknya lebih sering melatih siswa dengan berbagai metode pembelajaran, walau dalam taraf yang sederhana, dimana siswa nantinya dapat menemukan pengetahuan baru, memperoleh konsep dan keterampilan, sehingga siswa berhasil atau mampu memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya.
- Perlu adanya penelitian yang lebih lanjut, karena hasil penelitian ini hanya dilakukan di MA Baniy Kholiel Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember Tahun Pelajaran 2010/2011.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi. 1997. Dasar-dasar
Evaluasi Pendidikan. Jakarta:
Bumi Aksara.
Berg, Euwe Vd. (1991). Miskonsepsi
agama Islam dan Remidi Salatiga: Universitas Kristen Satya Wacana.
Hamalik, Oemar. 2002. Psikologi
Belajar dan Mengajar. Bandung:
Sinar Baru Algesindo.
Joyce, Bruce dan Weil, Marsh. 1972. Models of Teaching Model. Boston:
A Liyn dan Bacon.
Masriyah. 1999. Analisis Butir
Tes. Surabaya:
Universitas Press.
Mukhlis, Abdul. (Ed). 2000. Penelitian
Tindakan Kelas. Makalah Panitia Pelatihan Penulisan Karya Ilmiah untuk
Guru-guru se-Kabupaten Tuban.
Nur, Moh. 2001. Pemotivasian
Siswa untuk Belajar. Surabaya.
University Press. Universitas Negeri Surabaya.
Soedjadi, dkk. 2000. Pedoman
Penulisan dan Ujian Skripsi. Surabaya;
Unesa Universitas Press.
Suryosubroto, B. 1997. Proses
Belajar Mengajar di Sekolah. Jakarta:
PT. Rineksa Cipta.
Usman, Uzer. 2000. Menjadi Guru
Profesional. Bandung:
PT. Remaja Rosdakarya.
Widoko. 2002. Metode
Pembelajaran Konsep. Surabaya:
Universitas Negeri Surabaya.

Comments
Post a Comment