proposal penelitian ptk
PROPOSAL PENELITIAN
A. Judul
Penelitian
PENINGKATAN
PRESTASI BELAJAR AQIDAH AHLAK
MELALUI SRATEGI PEMBELAJARAN QUESTION
STUDEN HAVE
DENGAN MEDIA GAMBAR KELAS X A
DI MADRASAH ALIYAH MA’ARIF
NU KENCONG JEMBER
TAHUN PELAJARAN 2013/2014
.
B. Latar Belakang
Pendidikan merupakan upaya sadar untuk
mencerdaskan kehidupan Bangsa dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya
pengajaran dan pelatihan. Dalam proses kedewasaan manusia yang hidup dan
berkembang tampak nyata bahwa manusia selalu berubah dan perubahan itu merupakan
hasil belajar. Hal ini berarti bahwa dalam pendidikan terjadi sebuah perubahan
dalam aspek Kognitif, Psikomotorik, dan afektif nya.
Dalam proses pembelajaran di sekolah
sebagai suatu aktifitas mengajar dan belajar yang di dalamnya terdapat dua
subyek yaitu guru (pendidik) dan siswa sebagai peserta didik. Tugas dan
tanggung jawab utama dari seorang guru adalah menciptakan pembelajaran yang
efektif, efisien, kreatif, dinamis dan menyenangkan.
Hal ini dengan adanya kesadaran dan
keterlibatan aktif antara dua subyek pembelajaran yaitu guru adalah pemeran
utama sebagai pembimbing, fasilitator dan motifator, dan peserta didik sebagai orang yang
mengalami dan terlibat aktif untuk
memperoleh perubahan diri dalam pembelajaran itu sendiri. Untuk mengoptimalkan
pencapaian hasil belajar maka diperlukan sebuah interaksi edukatif dalam proses
pembelajaran.
Pendidikan Agama Islam merupakan mata pelajaran pokok yang tidak
hanya mengantarkan peserta didik untuk dapat menguasai berbagai kajian
keislaman, tetapi lebih menekankan pada pengamalan dalam kehidupan sehari-hari
di tengah masyarakat. Oleh karena itu, guru pendidikan agama Islam hendaknya
dapat mengembangkan pembelajaran yang berorientasi pada pencapaian kompetensi
peserta didik secara menyeluruh yang mencakup ranah kognitif, efektif dan
psikomotorik.
Pendidikan agama Islam adalah usaha
sadar yang di lakukan 0leh pendidik kepada peserta didik untuk
membentukkepribadianya menjadi kepribadian religious,yang meliputi aspek
kognitif , afektif dan psikomotor. (Haidar dan Nurgaya, Pendidikan Islam Dalam
Mencerdaskan Kehidupan Bangsa: 26:2012)
Berbagai usaha telah di lakukan oleh
pemerintah secara terus menerus untuk mendukung keberhasilan pembelajaran
pendidikan agama Islam di sekolah. Usaha tersebut di antaranya dengan
penyempurnaan kurikulum dari KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) menjadi
Kurikulum 2013 (K13), menambah sarana dan prasarana pendidikan serta mengadakan
pembinaan guru melalui penataran, beberapa usaha untuk mendukung keberhasilan
telah di laksanakan namun usaha tersebut masih belum menemukan hasil yang
memuaskan. Kenyataan di lapangan menunjukkan masih banyak siswa yang kurang
aktif dalam proses pembelajaran.
Rendahnya minat belajar siswa merupakan
indikasi bahwa pembelajaran itu berjalan tidak efektif dan adanya beberapa
komponen pembelajaran yang belum berfungsi secara baik. Oleh karena itu, guru
dan siswa adalah komponen yang sangat berpengaruh terhadap keberhasilan
pembelajaran.
Berdasarkan permasalahan tersebut maka
ada beberapa faktor penyebab rendahnya hasil belajar siswa Kelas X I dalam
pembelajaran, yang di sebabkan siswa kurang memahami dalam proses pembelajaran,
dan Siswa kurang aktif dalam belajar, bermain, berdiam diri dan bahkan ada yang
keluar yang di sebabkan dengan alasan mau ke kamar kecil.
Melihat kondisi yang ada di lapangan
dengan penilaian hasil proses belajar siswa sangat jauh berbeda, karena
pendidikan agama Islam sudah sepantasnya di ikuti dengan aktif sebagai pedoman
dalam menjalankan hidup dan hasil belajar yang di peroleh dari keaktifannya
berada di bawah rata-rata kriteria ketuntasan belajar (KKM). Seharusnya mereka
harus mampu menguasai pendidikan agama Islam yang akan di terapkan dalam
kehidupan dan memiliki nilai minimal rata-rata kriteria ketuntasan belajar (7,8)
namun hal itu masih jauh dari apa yang di harapkan, karena kurang aktifnya
siswa dalam proses pembelajaran.
Proses pembelajaran pendidikan agama
Islam di sekolah yang kurang efektif di atas tidak bisa terus menerus di
biarkan, karena dapat menyebabkan siswa mengalami kendala untuk maju ke tahap
pembelajaran berikutnya. untuk mengatasi masalah tersebut perlu di terapkan
pembaharuan dalam penggunaan metode pembelajaran pendidikan agama Islam. Dalam
hal ini guru harus dapat melaksanakan strategi pembelajaran aktif yang dapat
mendukung keberhasilan siswa dalam memahami pendidikan agama Islam dengan baik
dan memotifasi siswa untuk lebih aktif dalam proses pembelajaran.
Untuk menciptakan proses pembelajaran
yang menunjang keberhasilan siswa selama pembelajaran berlangsung dan hasil
belajarnya menjadi lebih baik, Guru dapat menerapkan dan merancang berbagai
macam strategi akrif. Salah satu upaya yang dapat di lakukan untuk menunjang
keberhasilan siswa dalam proses pembelajaran maka dapat dilakukan melalui
strategi question student have dan media gambar/Lcd. Dalam strategi ini siswa
di tuntut untuk membuat pertanyaan dan mampu menyelesaikan masalah atau
menjawab pertanyaan dari temannya secara acak melalui perantara guru setelah
guru memberikan penjelasan melalui media gambar. Pembelajaran melalui strategi
pembelajaran question student have akan dapat meningkatkan keaktifan siswa
dalam pembelajaran dan juga meningkatkan hasil belajarnya.
Oleh karena itu melalui penelitian ini
akan di lihat apakah pembelajaran pendidikan agama Islam melalui Strategi
pembelajaran question student have dengan Media Gambar dapat meningkatkan
keaktifan pembelajaran dan hasil belajar siswa.
C. Alasan Pemilihan Judul
Setiap
tulisan ilmiah mempunyai alasan-alasan yang dapat dipertanggung jawabkan. Demikian
juga dalam penelitian ini memilih judul :
“Peningkatan Prestasi Belajar Aqidah Ahlak Melalui Srategi Pembelajaran Question Studen Have Dengan Media Gambar Kelas X A Di Madrasah Aliyah Ma’arif Nu Kencong Jember, mempunyai alasan-alasan sebagai berikut :
1. Alasan obyektif
a. Karena judul
ini sangat menarik untuk di teliti, anak adalah amanat dan karunia Allah SWT,
kewajiban untuk mendidik, mengarahkan, membimbing kejalan yang sesuai dengan
akidah/akhlak dan syariat islam.
b. Pendidikan
agama islam merupakan pendidikan yang sangat penting untuk siswa, karena dengan
pendapat agama islam dapat membentuk insan yang beriman dan bertaqwa dan
sekaligus ikut menentukan keberhasilan tujuan pendidikan nasional.
2. Alasan
Subyektif.
a. Dipilihnya MA
Ma’arif NU Kencong Jember, sebagai obyek penelitian, karena lokasi ini mudah
dijangkau dan lebih efektif dalam penggunaan tenaga, waktu dan biaya.
b.
Sebagai mahasiswa Staifas Kencong Jember
jurusan pendidikan agama islam merasa tepanggil untuk membahas topik yang
menyangkut pelaksanaan pendidikan agama islam di MA Ma’arif NU Kencong Jember
D. Rumusan Masalah
Dalam penelitian rumusan masalah adalah
tahap awal
yang dilakukan oleh seorang peneliti sebelum memulai melakukan rentetan
kegiatan-kegiatan berikutnya. Tanpa didahului dengan topic dan focus pertanyaan
yang jelas dan rinci, dan layak diteliti, tahap-tahap berikutnya yang dilakukan
niscaya tidak akan berkembang dengan baik, sekedar mengikuti perkembangan data
dilapangan, tapi tidak menjawab secara mendalam topic-topik dan focus
penelitian yang sudah dirumuskan
Dengan demikian jelaslah fokus daripada
penelitian yang akan dilakukan adalah adakah pengaruh “Peningkatan Prestasi Belajar Aqidah Ahlak Melalui Srategi Pembelajaran Question
Studen Have Dengan Media Gambar Kelas X
A Di Madrasah Aliyah Ma’arif Nu Kencong Jember,
Tahun2013/2014. Sedangkan aspek-aspek
masalahnya adalah :
1. Adakah pengaruh
Peningkatan Prestasi Belajar Aqidah Ahlak Melalui Srategi Pembelajaran Question
Studen Have Dengan Media Gambar Kelas X
A Di Madrasah Aliyah Ma’arif Nu Kencong Jember,
Tahun2013/2014?
E. Tujuan
Penelitian
Setiap aktifitas penelitian pada
umumnya memiliki tujuan tertentu, demikian juga dalam penelitian ini, tujuan
yang di capai antara lain sebagai berikut :
1.
Tujuan
Mayor/Tujuan Umum
Ingin
mengetahui ada tidaknya dan sejauh mana pengaruh strategi pembelajaran terhadap
keberhasilan siswa MA Ma’arif NU Kencong Jember.
2.
Tujuan
Minor/Tujuan Khusus
a.
Ingin
mengetahui ada tidaknya pengaruh Peningkatan Prestasi Belajar Aqidah Ahlak Melalui Srategi Pembelajaran Question Studen Have Dengan Media Gambar Kelas X A Di Madrasah Aliyah
Ma’arif Nu Kencong Jember, Tahun2013/2014.
F. Kajian Teoritik
1. Kerangka
Teoritis Tentang peningkatan prestasi belajar
a. Pengertian
perkembangan kognitif dalam proses pembelajaran
Berbicara
mengenai perkembangan kognitif sering kali tidak dapat dipisahkan dari seorang
pelopor psikologi kognitif yang bernama jean peaget. Istilah kognitif sering
dikenal dengan istilah intelek. Jean Peaget
mendefinisikan “intellect” ialah akal budi berdasarkan aspek aspek
kognitifnya khususnya proses – proses berpikir yang lebih tinggi (Bybee dan
Sund, 1982). Sedangkan “intelligence” atau intelegensi menurut Jean Peaget sama
“dengan kecerdasan” yaitu seluruh
kemampuan berpikir dan bertindak secara adaptif termasuk kemampuan kemampuan
mental yang komplek seperti berfikir, mempertimbangkan, menganalisis
mengsintesis, meng evaluasi dan menyelesaikan persoalan – persoalan.
Dimana pada
seorang yang dalam proses pembelajaran pada tahap perkembangan kgnitif oprasional
formal pada usia 11 tahun keatas pada masa ini anak telah mampu mewujudkan
suatu keseluruhan pekerjaan yang hasil dari ‘berpikir logis. Aspek dan perasan
dan moralnya telah berkembang sehingga dapat menyelesaikan tugas - tugasya.
Pada tahap
ini menurut Peaget , interaksinya dengan lingkungan sudah amat luas menjangkau bayak
teman sebayanya dan bahkan berusaha untuk dapat berintraksi dengan orang
dewasa. Dan disinilah bagaimana seorang pendidik dapat menningkatkan prestasi
belajar dalam pendidikan.
Dalam pendidikan agama
Isalam meliputi beberapa bidang diantaranya Al Qur’an, Hadits, Keimanan aqidah, akhlaq, syari’ah. Sekaligus menggambarkan bahwa ruang lingkup pendidikan Agama
Islam mencakup perwujudan keserasian, keselarasan dan kesimbangan hubungan manusia
dengan Alah SWT, diri sendiri, sesama manusia, makhluk lainnya maupun
lingkungannya.
Dengan demikian, maka jelaslah bahwa
keberadaan pendidikan agama Islam harus mampu mengantisipasi perkembangan era
informasi dan globalisasi antara lain dengan jalan meningkatkan kualitas sumber
daya manusia dalam pengembangan nalar yang rasional dan pemikiran yang kritis
dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Dasar
dan Tujuan Pendidikan Agama Islam
Adapun dasar yang dipegang dalam
melaksanakan pendidikan agama Islam meliputi :
1) Dasar yuridis atau hukum
2) Dasar religius
3) Dasar sosial psikologis
1 Dasar Yuridis / Hukum
Yang
menjadi dasar yuridis atau hukum dalam pelaksanaan pendidikan agama Islam dapat
dibedakan menjadi tiga macam yaitu :
Dasar ideal yaitu falsafah bangsa yaitu
Pancasila
a. Dasar
Struktural
Dasar
struktural pendidikan agama Islam adalah
UUD 1945, dalam bab Xi pasal 29 ayat (1) dan (2)yang berbunyi :
Pasal 1
: Negara berdasarkan atas
ketuhana Yang Maha Esa.
Pasal 2 : Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap
penduduk untuk memeluk agamanya
masing-masing dan untuk beribadah menurut agama dan kepercayaannya itu. (UUD
1945, 1945, 1993 : 11).
b. Dasar
Operasional
Secara langsung
pendidikan agama Islam di Indonesia adalah sebagaimana yang tercantum dalam
Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 tahun 2003.
c. Dasar religius
Yang
dimaksud dasar agama atau religius adalah yang bersumber dari Al-qur’an maupun
hadits nabi Muhammad SAW. Di dalam Al-qur’an disebutkan bahwa melahsanakan
pendidikan agama merupakan perintah dari
Allah SWT. Dan merupakan ibadah kepada-Nya, seperti dalam firman Allah
sebagai berikut :
Artinya : Dan
hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan,
menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar merekalah orang-orang
yang beruntung. (Q.S. Ali Imron : 104) (Depag. RI 1989 : 93).
Dari ayat tersebut dapat diambil
pengertian bahwa semua pendidikan adalah ibadah. Oleh karena itu sebagai insan muslim
harus selalu melakukan perbaikan kualitas dalam pendidikan untuk melaksanakan
perintah agama, anjuran negara dansekaligus untuk kepentingan sendiri dalam
mengantisipasi kebutuhan yang akan datang.
d. Dasar sosial
psikologis
Menurut
Hasan Langgulung dalam bukunya Manusia dan pendidikan sebagai berikut : “Maksudnya adalah pendidikan bukan hanya berarti pewarisan nilai-nilai budaya
berupa kecenderungan dan keterampilan dari generasi tua kepada generasi muda,
tetapi juga pengembangan potensi individu untuk kegunaan individu itu sebdiri
untuk kebahagiaan masyarakat”.(1996 : 26).
b. Materi
Pendidikan Agama Islam
Dalam
materi pendidikan Islam tiga bahasan yaitu :
(1) Pendidikan
Agama Islam dalam bidang Aqidah
Aqidah
adalah bersifat suatu I’tiqod yang menjadi pengikat hati (batin) yang mengajar
manusia kepada ke-Esa-an Allah sebagai pencipta alam semesta (Nafri Imam
Wahyudi, 1997 : 2).
Dalam
Islam, aqidah Islam iman atau kepercayaan sumber yang asli ialah Al-qur’an.
Iman ialah segi teoritis yang dituntut pertama-tama dan terdahulu dari segala
sesuatu keimanan yang tidak boleh dica,puri oleh keragu-raguan dan dipengaruhi
olleh persangkaan (Narsudi Razak, 1993 : 119).
Dari
pendapat tersebut diatas, telah menjelaskan aqidah baik secara termilogi maupun
etimologi dan dengan jelas pula bahwa aqidah dapat diartikan iman. Iman
merupakan pondasi awal yang harus ada atau dimiliki oleh setiap individu dan
tertanam di sanubarinya tanpa ada keragu-raguan.
(2) Pendidikan
Agama Islam dalam bidang Akhlaq
Kata
akhlaq merupakan salah satu perbendaharaan bahasa Indonesia yang dikutib dari
bahasa Arab, dan merupakan budi pekerti, perangkai, tingkah laku atau tabiat.
Digunakan kata akhlaqun untuk makna budi pekerti, dan dengan kata khalqun yang
bermakna kejadian, kerena itu tingkah laku budi pekerti dan perangi itu merupakan
perwujudan dari konsep-konsep yang terbentuk sebagai hasil interaksi antara
doktrin-doktrin ajaran yang telah dimiliki seseorang dengan lingkungan sosial
yang dihadapinya (Depag. RI 1997 : 64).
Akhlaq
dalam agama Islam ialah “Suatu ilmu yang dipelajari yang didalamya tingkah laku
manusia, atau sikap hidup manusia dalam pergaulan hidup”. (A. Malik Fajar, 1981
: 98). Sailun A. Nasir menyatakan bahwa “Akhlaq ialah tata cara (tata krama)
bagaimana seseorang melakukan hubungan dengan
kholiq-Nya dan melakukanhubungan dengan sesama manusia”. (1982 : 91).
Beberapa
pengertian di atas dapat diambil sebuah kesimpulanbahwa akhlaq adalah sifat
perangai, tabiat dan adab atau sistem perilaku yang dibuat oleh manusia yang
merupakan tata cara bagaimana seseorang dapat memilikki tingkah laku yang baik
dan dapat melaksanakan tujuan pembelajaran yang baik pula
2. Tinjauan
Teoritis Tentang Kedisiplinan
Pengerian kedisiplinan.
Menurut
WJS. Poerwadarmanto, pengerian disiplin ialah “Latihan batin dan watak dengan
maksud supaya segala perbuatan yang selalu menaati perintah tata tertib (di
sekolah)” (1987 : 254).
Sedangkan
menurut Hadari Nawawi, disiplin adalah “Usaha untuk membina secara terus
menerus kesadaran dalam bekerja atau belajar dengan baik, dalam arti setiap
orang menjalankan fungsinya secara efektif (1985 : 140).
Dari
kedua pendapat tersebut maka dapat disimpulkan bahwa disiplin merupakan suatu
tingkatanketaatan kepada tata tertib, yang dilakukan dengan adanya kesediana
untuk mentaati peraturan dalam proses kerja atau belajar yang baik.
Dasar
kedisiplinan
Adapun dasar untuk menanamkan sikap disiplin, adalah tertera dalam surat
An Nisa ayat 103 ebagai berikut :
Artinya : Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu),
ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring.
Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu
(sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan
waktunya atas orang-orang yang beriman.
Dari ayat tersebut dapat dijelaskan
bahwa apabila setelah melaksanakan sholat dianjurkan untuk selalu ingat pada
Allah di setiap aktivitas kehidupan baik di waktu berdiri, duduk, berbaring.
Sebab jika kita selalu ingat kepada Allah kita akan merasa aman. Apabila kita
sering melakukan sholat yang sudah ditentukan waktunya, maka dapat diambil
suatu pelajaran atau dapat dijadikan dasar bahwa kita harus bersikap disiplin
untuk selalu konsis pada suatu peraturan-peaturan yang telah ditentukan karena
sikap disiplin adalah sangat penting untuk mensukseskan cita-cita yang
diharapkan
Dengan
demikian berarti ada pengaruh Peningkatan Prestasi Belajar Aqidah Ahlak Melalui Srategi
Pembelajaran Question Studen Have Dengan Media Gambar Kelas X A Di Madrasah Aliyah
Ma’arif Nu Kencong Jember, Tahun2013/2014.
G. Hipotesa
Hipotesis pada dasarnya adalah
pernyatan sementara terhadap suatu gejala, dimana kebenaran pernyataan tersebut
memerlukan pembauktian melalui penelitian di lapangan.Sebagaimana dijelaskan
oleh H. Arif Furchan, MA. Ph.D adalah sebagai berikut : “Hipotesis adalah
ramalan peneliti tentang hasil penelitian ilmiah”
Berdasarkan pendapat di atas, maka
dapat disimpulkan bahwa hipotesis merupakan suatu kesimpulan atau jawaban
sementara terhadap suatu masalah. Kemudian jawaban sementara itu dapat
dipergunakan sebagai pedoman dalam penelitian guna mencari jawaban yang benar.
Adapun
hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini sebagai berikut :
1. Hipotesa Mayor
a. Ada pengaruh
peningkatan strategi question student have dengan media gambar terhadap prestasi belajar siswa MA Ma’arif
NU Kencong Jember Tahun 2013/2014.
2. Hipotesa Minor
a. Ada pengaruh peningkatan prestasi belajar aqidah ahlak Melalui srategi pembelajaran question studen have
dengan media gambar kelas x a Di Madrasah
Aliyah Ma’arif NU Kencong Jember Tahun pelajaran 2013/2014.
H. Metode Penelitian
1. Batasan tentang
metode penelitian
Winarno Surakhmad mengemukanan
pendapat tentang metode penelitian sebagai beikut : “Metode adalah cara yang
digunakan untuk mencapai tujuan misalnya unutk menguji serangkaian hipotesa
dengan menggunakan tehnis serta alat-alat” (1993 : 29)
Kemudian Kuncoro Ningrat mengemukakan
“Metode ilmiah dari suatu pengetahuan adalah cara kerja untuk dapat memahami
obyek yang menjadi sasaran ilmu yang bersangkutan” (1985 : 7)
Dari
kedua pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa metode adalah cara yang
digunakan seseorang peneliti untuk mencapai suatu tujuan dalam penelitian.
Untuk itu supaya sampai kepada
kebenaran ilmiah, maka terdapat beberapa metode yang dikemukakan dalam
penelitian ilmiah ini.
2. Penentuan daerah
Penelitian
Daerah
penelitian berarti daerah-daerah yang ditempati seseorang peneliti yang
mengadakan suatu penelitian. Secara tegas tidak ada suatu ketentuan pasti yang
mengadakan suatu penelitian yang harus ditetapkan oleh seorang peneliti.
Dalam hal
ini disandarkan pada suatu pendapat yang mengatakan bahwa “Sebenarnya tidak ada
suatu ketentuan yang mutlak tentang berapa luas dari suatu daerah untuk
diadakan suatu penelitian”.
Atas
dasar itulah ditentukan daerah penelitian ini adalah siswa kelas XA MA Ma’arif
NU Kencong Jember Tahun 2013/2014.
3. Penentuan
Responden
Dari
keseluruhan siswa MA Ma’arif NU Kencong Jember, siswa yang akan dijadikan obyek
penelitian adalah siswa kelas X A yang berjumlah 35 siswa.
4. Metode
Pengumpulan Data
Untuk
memperoleh data guna mengungkap dan memecahkan masalah penelitian, kami
menggunakan metode-metode sebagai berikut:
a. Metode
Observasi
Metode
observasi adalah cara untuk mengumpulkan data dengan jalan mengadakan
pengamatan dan pencatatan terhadap gejala-gejala fakta-fakta dari obyek yang
diteliti baik secara langsung maupun tidak langsung. Sutrisno Hadi menerangkan
bahwa “Observasi adalah penyelidikan secara sistematik tentang fenomenafenomena
yang diselidiki ” (1983 : 126).
Dengan
demikian dapatlah dikatakan bahwa metode observasi adalah pengumpulan data yang
dilakukan melalui pengamatan secara sistematis terhadap gejala-gejala yang
diselidiki.
b. Metode
Interview
Menurut
pedapat Margono, : “Interview alat pengumpul informasi dengan cara mengajukan
sejumlah pernyataan secara lisan pula” (2004:165). Dan Drs. Mardalis
menjelaskan interview adalah “Teknik pengumpulan data yang digunakan peneliti
untuk mendapatkan keterangan-keterangan lisan melalui bercakap-cakap dan
berhadapan muka dengan orang yang dapat memberikan keterangan kepada peneliti”
(1989:65).
Sutrisno
hadi mengemukakan adanya tiga jenis intervew, yaitu intervew tak terpimpin
(bebas), intervew terpimpin tidak terpimpin, dan intervew bebas terpimpin (1983
: 204 – 206).
Adapun
jenis-jenis, metode intervew, antara lain adalah intervew terpimpin. Intervew
tidak terpimpin, intervew bebas terpimpin, intervew pribadi, dan intervew
kelompok, intervew tidak langsung.
Di
dalam penelitian ini kami menggunakan intervew :
1. Metode intervew
pribadi
2. Metode intervew
tidak langsung
3. Metode intervew
bebas terpimpin
- Yang dimaksud intervew pribadi adalah intervew dilaksanakan dengan cara berhadap-hadapan secara face to face intervcewer dengan inntervewes.
- Metode Intervew Tidak Langsung
Intervew tak langsung
adalah penelitian dalam usaha meraih data-data yang diperlukan dari pihak
responden dan melalui pihak orang lain atau informan.
- Metode interview bebas terpimpin
Adalah intervew campuran
antara untervew terpimpin dan intervew tidak terpimpin. Inntervew ini dilakukan
dengan sistematis dalam usaha meraih data yang diperlukan, artinya intervew
telah membuat daftar pertanyaan secara sistematis tentang hal-hal yang akan
disampaikan kepada intervewes.
c. Angket
Pengertian
metode angket ini dikemukakan Kartini Kartono dalam buku Pengantar Methodologi
Research, demikian :
Angket adalah suatu
penyelidikan mengenai masalah yang umumnya banyak menyangkut kepentingan umum,
dilakukan dengan jalan mengedarkan pertanyaan berupa formulir yang disajikan
secara tertulis kepada subyek untuk mendapatkan jawaabanatau tanggapan (respon)
tertulis seperlunya (1986 : 217).
Berkenan
dengan angket ini ada yang angket disebut angket langsunng dan angket tidak
langsung. Marzuki dalam bukunya Methodologi Research menjelaskan bahwa :
“Angket langsung adalah angket yang dikenakan pada orang yang dimminta untuk
menceitakan tentang pihak lain” (1986 : 65)
Selain
kedua jenis angket di atas dikenal jenis angket tipe isian dan tipe pilihan.
Dalam angket tipe isian meminta respponden untuk mengisi jawaban sesuai dengan
pertanyaan yang diajukan. Sedangkan bila angket tipe pilihan meminta responden
untuk memilih salah satu jawaban atau lebih dari sekian banyak banyak
jawaban-jawaban (allternatif) yang sudah disediakan (Sutrisno Hadi, 1983 : 158
– 160).
Penelitian
ini menggunakan jenis angket langsung tipe pilihan dikatakan langsung karena
angket penelitian ini diperuntukkan bagi responden untuk memberikan keterangan
tentang dirinya. Dikatakan pilihan responden karena responden tinggal memilih
salah satu alternatif jawaban yang tersedia.
d. Metode
Dokumenter
Suhasimi
Arikunto dalam bukunya Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktis menjelaskan
“Metode dokumentasi yaitu mencari data mengenai hal-hal atau variabel-variabel
yang beripa catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen,
leger, agenda, dan sebagainya” (1987 : 188). Lebih lanjut Winarno Surachmad
menjelaskan bahwa metode yang digunakan dapat disebut sebagai metode dokumenter
atau historis bila penyelidikan ditujukan pada penguraian dan penjelasan apa
yang telah lalu melalui sumber-sumber dokumen. (1990 : 132).
Jadi
metode dokumenter adalah telaah terhadap catatan-catatan atau dokumen sebagai
sumber data adalah meliputi seluruh data dokumen yang ada di kantor dan yang di
dalam kelas X A MA Ma’arif NU Kencong Jember.yang terdiri :
a. Data tentang
struktur organisasi siswa kelas X A MA
Ma’arif NU Kencong Jember
b. Data tentang
keadaan siswa
c. Data hasil
belajar siswa
‘
5.
Teknik
Analisa Data
Apabila
sudah terkumpul data yang diperoleh, maka selanjutnya adalah menganalisa data
yaitu dengan menggunakan metode statistik. Adapun yang dimaksud metode
statistik adalah : “Suatu kegiatan di dalam mengumpulkan data dengan statistik
ini seseorang penelitian dengan cara-cara ilmiah untuk mengggumpulkan data,
menyusun, menganalisa, dan menyajikan data terwujud angka-angka ” (Sri Adji
Surjadi Prawirahaja) (1977 : 6).
Adapun metode statistik yang kami pergunakan dalam pengumpulan data ini
adalah statistik Chi kwadrat dengan rumus :
Keterangan :
X2 = Nilai
chi kwadrat
fo = Frekwensi yang diperoleh
fh = Frekwensi yang diharap
(Sutrisno Hadi, 182 :
278).
Dengan
rumus tersebut, dimaksudkan untuk memperoleh apakah hipotesa yang diajukan
dapat diterima atau ditolak kemudian untuk mmengetahui sejauh mana hubungan
tersebut, maka chi kuadrat diuji cobakan dengan KK (Koefisien kontingensi)
dengan rumus sebagai berikut:
Keterangan
KK=Koefision Kontingensi
X2 = Chi
Kwadrat
N = Jumlah sampel
Koefision Korelasi biasanya berkisar antara +
0,00 sampai dengan + 100. panda plus ( + ) menunjukkan arah hubungan positif,
sedangkan tamga min ( - ) menunjukkan arah hubungan negatif.
Kriteria penafsiran adalah sebagai berikut:
KK -0,00 -0,200 - Nihil
KK -0,200 -0,400 - Kurang
KK -0,400 -0,600 - Sedang
KK -0,600 -0,800 - Cukup
KK -0,80 -1,000 - Tinggi
(Maghsun Afif dan
Sruadji Suryadi, 1984 : 28)
Demikian
analisa data yang hendak dirumuskan dalam methodologi penelitian ini.

Comments
Post a Comment